Sindoraya.com, Jakarta, – Ribuan driver online dari berbagai daerah di Indonesia akan bergerak menuju Istana Negara pada 20 November 2025 untuk menuntut pemerintah segera menetapkan regulasi tarif yang dinilai terlalu lama tertunda.
Aksi nasional ini digerakkan oleh Forum Diskusi Transportasi Online Indonesia (FDTOI) sebagai respons atas stagnannya tarif dan tingginya potongan aplikasi yang membebani pengemudi.
Koordinator FDTOI, Tito Ahmad, menyebut banyak pengemudi harus bekerja hampir sepanjang hari namun tetap kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurutnya, biaya hidup yang meningkat tidak sebanding dengan tarif yang tidak pernah disesuaikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Motor harus dirawat, bensin setiap hari keluar, tapi tarif tidak berubah. Kalau dibiarkan, ini bukan pekerjaan layak,” ucap Tito.
FDTOI menilai tarif ideal saat ini seharusnya naik menjadi Rp2.900–Rp3.200 per kilometer, mengikuti kenaikan biaya operasional. Sementara itu, layanan antar makanan dan barang yang menyumbang lebih dari 70 persen order justru belum memiliki regulasi tarif khusus, sehingga banyak pengemudi menerima bayaran sangat rendah, bahkan hanya Rp5.000 per order.
Selain persoalan tarif roda dua, FDTOI juga menyoroti potongan aplikasi bagi pengemudi roda empat yang disebut sering berubah dan tidak memiliki batas regulasi. Potongan dinilai terlalu besar dan menggerus pendapatan harian driver.
Dari Jawa Timur, sekitar 300 pengemudi dijadwalkan berangkat menggunakan 4 bus besar dan 5 minibus. Sementara di kota-kota lain seperti Batam, Medan, Balikpapan, dan Samarinda, pengemudi juga telah menyiapkan keberangkatan mandiri.
Tito menegaskan aksi 20 November bukan bentuk perlawanan, tetapi desakan agar pemerintah mendengar dan mengambil keputusan yang telah ditunggu selama bertahun-tahun.
“Kami hanya ingin kepastian untuk bekerja, untuk hidup layak, dan untuk masa depan keluarga,” pungkasnya.
Samsul A












