Sindoraya.com, Tuban, – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, memicu sorotan setelah siswa menemukan susu kedelai diduga basi dalam paket makanan, Kamis (26/2/2026). Peristiwa ini langsung menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan warga karena program tersebut menyasar anak-anak sekolah.
Kejadian itu berlangsung di salah satu sekolah di Rengel. Saat itu, Dapur MBG di RT 07 RW 07 menyalurkan paket makanan berisi piscok (pisang cokelat), telur rebus, dan sebotol susu kedelai. Awalnya, para siswa menyambut pembagian makanan dengan antusias. Namun, suasana berubah ketika beberapa siswa membuka botol susu dan mencium aroma asam yang menyengat.
Selain itu, sejumlah saksi melihat cairan susu kedelai tampak berubah dan tidak layak konsumsi. Karena itu, warga menduga pengelola kurang teliti dalam menyimpan atau mendistribusikan minuman tersebut. Dugaan ini pun segera menyebar dan menjadi perbincangan di lingkungan sekitar sekolah.
“Sangat disayangkan, program sebagus ini tercoreng karena pengawasan mutu yang kurang ketat. Susu kedelai itu cairannya berubah dan baunya tidak enak. Bagaimana jika sampai tertelan anak-anak?” ujar salah satu warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Selanjutnya, warga mempertanyakan standar operasional prosedur (SOP) dapur penyedia. Mereka meminta pengelola menjelaskan proses penyimpanan, pengecekan kualitas, serta distribusi makanan sebelum siswa mengonsumsinya. Dengan demikian, masyarakat ingin memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Di sisi lain, warga juga menyoroti potensi risiko kesehatan. Susu kedelai basi dapat memicu gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, kram perut, hingga diare. Oleh sebab itu, orang tua berharap pihak terkait segera mengambil langkah pencegahan.
Hingga Minggu (1/3/2026), pengelola Dapur MBG belum menyampaikan klarifikasi resmi terkait insiden tersebut. Meski demikian, warga terus mendesak evaluasi menyeluruh agar program makan gratis benar-benar memberi manfaat dan tidak membahayakan siswa.
Kepala Desa, Mundir menyayangkan kejadian itu. Ia meminta yayasan pengelola meningkatkan ketelitian dalam penyajian makanan. Menurutnya, pengelola harus rutin mengawasi kualitas bahan pangan, terlebih jika mereka melibatkan ahli gizi dalam program tersebut.
“Pengelola harus lebih hati-hati dan rutin melakukan pengawasan. Jika sudah melibatkan ahli gizi, maka kontrol kualitas wajib berjalan ketat agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,” tegasnya.
Terakhir, warga meminta Satgas TNI dan Polri menelusuri insiden ini secara menyeluruh. Mereka berharap aparat memastikan keamanan pangan dalam Program Makan Gratis di Tuban sehingga anak-anak dapat menerima manfaat tanpa risiko kesehatan.
( Tim/red )












