Sampah Fashion Jadi Trending Topik Dunia, PERSADIR Gelar Workshop di Batik Fashion 2019

0
92

Sindoraya Surabaya

Sebagai bagian dari agenda Batik Fashion 2019, Persatuan Pengusaha Bordir (PERSADIR) Jawa Timur akan menggelar Talkshow sekaligus Workshop dan Fashion show terkait detil ‘Sustainable Fashion’.

Talkshow yang bertajuk ‘Redesign with Handembroidery’ sesuai rencana akan dilaksanakan pada 30 November 2019 jam 11.00 – 12.45.

Siska Sumartono sebagai ketua promosi Persadir Jawa Timur sekaligus humas Deskranasda kota Surabaya menjelaskan bahwa Talkshow ‘Redesign with Handembroidery’ adalah wujud perhatian Persadir terhadap trending topik dunia tentang Indonesia sebagai negara nomer satu penghasil sampah fashion dengan harapan masyarakat lebih peduli dan beretika terhadap lingkungan terkhusus dalam hal Fashion.

Lebih lanjut, disini Persadir akan ada banyak pembahasan sekaligus Workshop terkait desain ulang barang-barang fashion yang sudah tak terpakai ataupun sudah ketinggalan dalam mode. Terlebih disitu juga akan ada banyak pelajaran tentang dunia usaha di bidang fashion mulai dari proses kerja, pemilihan bahan, design dan bagaimana mengatur tenaga kerja.

“Nantinya kita akan menyiapkan anggota kita untuk mendesain ulang atau bahkan membuat aneka barang fashion dari bahan-bahan yang tak terpakai misalnya dengan kain perca dan sebagainya,” ujarnya saat ditemui di Pembukaan Batik Fashion Fair 2019, Rabu (27/11) di Grand City Convex Surabaya.

Dalam rangkaian acara, nantinya juga akan di gelar fashion show dari redesaign model baju dan asesoris oleh beberapa model dari Persadir.

Terkait Persadir sendiri Siska menjelaskan bahwa Persadir terbentuk karena keprihatinan terhadap para pengrajin Bordir yang sudah mulai habis dikarenakan kalah bersaing dengan banyaknya pengusaha bordir komputer dan Label. Dan salah satu tugasnya adalah mempopulerkan kembali bordir manual dan sulam sebagai karya seni asesoris fashion di Jawa Timur.

Siska mengaku pernah melakukan survey, ternyata beberapa orang menjawab terkait Bordir adalah Jawa Barat, Tasikmalaya, Bukit tinggi, Bali dll, sayangnya tidak ada yang menyebut Jawa Timur sebagai pusat bordir padahal di Jawa Timur ada begitu banyak kantong-kantong wilayah bordir yang sudah berhasil mengangkat ekonomi kerakyatan, seperti di Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi dan masih banyak lagi.

Menurut Siska Ternyata Bordir dari Probolinggo dan Banyuwangi ini yang masuk ke Bali.

Sebenarnya, masih menurut Siska, kalau batik ada tulis dan batik printing, didalam bordir ada manual atau pakai mesin juki namun ada pula yang bordir komputer.

“Bordir-bordir komputer dari segi kekuatan dan keindahan masih kalah dengan bordir manual,” kata Siska.

Terakhir, harapannya para generasi muda dapat mulai menghargai kerajinan bordir manual dan sulam untuk penampilannya sekaligus dapat berkarya dan menghasilkan uang. Maka dari itu tugas Persadir adalah sesering mungkin mengenalkan kerajinan bordir melalui fashion show atau workshop dan talkshow.

Persadir Jawa Timur juga mengharapkan kepada segenap instansi pemerintahan memberi kesempatan untuk bordir manual dijadikan seragam dihari-hari tertentu seperti layaknya batik sehingga dapat mengangkat kesejahteraan pengrajin bordir sekaligus lebih mengenalkan bordir manual kepada masyarakat. (nawi)