Survey Suara Indonesia, Dwi Astutik Tertinggi secara Popularitas dan Elektabilitas

0
85
Survey Suara Indonesia, Dwi Astutik Tertinggi secara Popularitas dan Elektabilitas

Sindoraya Surabaya

Meski pendaftaran Pilwali Kota Surabaya tahun 2020 masih kisaran 6 bulan lagi, akan tetapi di kalangan masyarakat sudah menjadi pembicaraan yang hangat mengenai Bakal Calon yang akan tampil. Terbukti dalam Survey yang dirilis oleh media Suara Indonesia apabila Pilwali dilaksanakan saat ini, 80.1% masyarakat Surabaya akan ikut mencoblos. Sisanya, 10.2% masih ragu-ragu, sementara 4.5% menjawab tidak akan ikut mencoblos. 5.2% yang lain tidak menjawab.

Dengan melibatkan 420 Responden tersebar di 31 Kecamatan, dengan Margin or error sekitar 4.79% dan Tingkat kepercayaannya 95%, sebagian besar responden yaitu 56.19 % telah mendapatkan informasi bahwa Pemilihan Wali Kota Surabaya akan dilaksanakan pada tahun 2020. Meski demikian, masih banyak juga yang belum mendapatkan informasi, yakni sebesar 38.86 % dan 4.95% tidak menjawab.

Baca Juga : Hadiri Tasyakuran Umroh di Grahadi Gus Ali Minta Restu untuk Walikota Surabaya

Sebagai juru bicara Suara Indonesia, Ahmad Khubby Ali mengungkapkan bahwa Terdapat beberapa variabel yang dipotret dalam survey ini, seperti tingkat keterbukaan informasi politik, independensi pilihan politik, tingkat kedikenalan (popularitas), akseptabilitas (likebility), keterpilihan (elektabilitas) dan beberapa variabel lain yang berkaitan dengan perilaku pemilih (voterbehavior).

Diungkapkan saat rilis hasil survey di hotel Amaris Jl. Margorejo Indah (Jumat siang, 3 Januari 2020), Gus Khubby (Panggilan Ahmad Khubby Ali) mengatakan bahwa Kader NU masih menunjukkan keunggulannya. Disebutkan bahwa sesuai secara analisis popularitas, Dwi Astutik Muslimat NU menempati urutan pertama dengan 9,2%, diikuti Wisnu sakti 7,2%, Armuji 6,2%, serta Ali Azhara dan Gus Hans dengan tingkat popularitas sebesar 1,7% dan 1%.

Sementara saat ditanyakan langsung apakah responden pernah mendengar/mengetahui Ibu Dwi Astutik, 25% menjawab pernah sementara 68.56 menjawab tidak pernah. Sisanya 6.44 % tidak menjawab.

” Dengan melihat margin of error survey ini sebesar 4.79 %, maka masing-masing figur memiliki popularitas yang hampir sama,” lanjut Khubby.

Tak jauh beda, survey yang diadakan sejak 17 November hingga 16 Desember 2019 ini secara analisa elektabilitas memunculkan nama Dwi Astutik di puncak dengan 7,1%.

Menurut analisa survey pertimbangan utama yang responden jadikan orientasi memilih adalah sifat dan keperibadian calon (38.9%), kemampuan (34.4 %), latar belakang profesi (10 %), latar belakang keluarga (3.5 %), lainnya (2 %), tidak tahu/tidak jawab (5 %) dan memilih lebih dari satu jawaban (6.2%).

Baca Juga : Momen Hari Ibu, Ning Lia dapat Dukungan 38 Komunitas Relawan

Di kota Surabaya yang masyarakatnya dikenal rasional ini Kaos dan spanduk ternyata mendominasi sebagai media kampanye yang paling menarik. Sementara Facebook, Whatsapp dan IG masih dinilai sebagai medsos paling menarik.

Yang paling menarik, Surabaya yang selama ini walikotanya didominasi oleh kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan ternyata rujukan pilihan politiknya banyak dipengaruhi oleh kiai/ustad sebesar 30.8%), baru kemudian tokoh parpol 28.2%, dan diikuti pengurus ormas 11.5%, Bos/juragan 7.7%.

Lebih lanjut, Khubby menjelaskan bahwa semua nama yang muncul adalah bersifat independent dan tidak terpengaruh dengan partai manapun.

” Dari semua itu yang terpenting adalah rekom dari partai, karena tanpa adanya rekom akan menjadi sia-sia walaupun popularitas dan elektabilitasnya sangat tinggi,” ujar Ahmad Khubby Ali mengakhiri paparannya. (nawi)