Sindoraya.com, Surabaya, – Gelombang kemarahan publik di Kota Surabaya kini memasuki babak baru. Forum Solidaritas Madura Indonesia (FSMI) secara resmi mengeluarkan ultimatum keras kepada Pemerintah Kota Surabaya. Mereka menilai kebijakan Walikota Eri Cahyadi telah mencederai rasa keadilan rakyat kecil dan mengabaikan suara UMKM, tukang parkir, hingga masyarakat bawah yang kerap menjadi korban ketidakadilan kebijakan pemerintah kota.
Munculnya sederet video viral di TikTok yang memperlihatkan polemik parkir liar, dugaan premanisme, hingga penindasan terhadap pelaku UMKM, memperburuk citra pemerintah kota. Namun ironisnya, alih-alih menyelesaikan akar persoalan, Pemerintah Kota Surabaya dinilai justru memperkeruh keadaan dengan berbagai pernyataan publik yang kontroversial.
“Yang membuat gaduh bukan rakyat, tapi statemen-statemen pemerintah kota yang memperkeruh suasana. Rakyat kecil makin terpinggirkan!” tegas perwakilan FSMI dalam keterangan resminya, Kamis (12/06/2025).
Tak tinggal diam, FSMI kini merencanakan aksi besar-besaran yang berpotensi melumpuhkan aktivitas Kota Surabaya. Aksi ini akan digelar selama 5 hari berturut-turut, dimulai Senin 16 Juni hingga Jumat 20 Juni 2025. Puncaknya, massa FSMI akan mengepung langsung rumah kediaman Walikota Surabaya, Eri Cahyadi.
“Aksi ini bentuk perlawanan rakyat kecil yang selama ini diinjak-injak. Jika pemerintah tutup telinga, maka kami yang akan membuka mata publik!.”
FSMI menegaskan, gerakan ini merupakan murni suara hati masyarakat yang kecewa atas arogansi kekuasaan Pemkot Surabaya. Mereka menuntut adanya keadilan, penghentian praktik sewenang-wenang terhadap UMKM, penataan juru parkir secara manusiawi, serta penghentian stigma negatif terhadap warga kecil yang selama ini dikaitkan dengan praktik premanisme.
“Bila pemerintah tidak adil, maka rakyat yang akan bertindak!”
Rencana aksi ini langsung mengundang perhatian publik luas, mengingat intensitas ketegangan sosial yang kian memanas di Surabaya beberapa waktu terakhir. FSMI mengimbau seluruh elemen masyarakat yang peduli terhadap keadilan untuk ikut serta dalam aksi besar ini.
Surabaya pun kini tengah berada di ambang ketegangan. Semua mata tertuju ke 16 Juni 2025. Apakah Walikota Eri Cahyadi akan mendengarkan suara rakyat, atau justru membiarkan konflik ini membesar?
Samsul A.












