Sindoraya.com, Badung – Ketua YKPW, Jro Gede Komang Widiarta, ST. (Jro Widhi), mengajak umat Hindu tetap optimistis saat menyambut Galungan. Sebab, momentum ekonomi sulit ini harus menjadi pijakan utama untuk memperkuat mental spiritual. Oleh karena itu, beliau mengimbau umat agar kembali pada hakikat sejati ritual yadnya yang tulus ikhlas.
“Di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan dan ketidakpastian ini, mari kita jadikan momentum Hari Suci Galungan sebagai pijakan untuk memperkuat tekad dan sradha (keimanan) kita,” ujar Jro Widhi.
Selain itu, beliau menegaskan bahwa kemewahan sarana upacara bukanlah indikator utama dalam beragama. Sebaliknya, esensi kemenangan Dharma melawan Adharma justru lebih bermakna dalam kesederhanaan. Dengan demikian, nilai luhur tersebut akan terpancar nyata langsung dari dalam hati yang bersih.
“Melalui kesederhanaan, kita temukan esensi sejati dari kemenangan Dharma melawan Adharma. Semoga Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa menganugerahkan kekuatan, kesehatan, dan jalan terang bagi kita semua untuk melewati masa-masa sulit ini. Utamakan tujuan utama beryadnya, jangan lagi terperangkap oleh rasa untuk memaksakan diri,” tegasnya.
Pelestarian Budaya Bali Melalui Pemasangan Penjor Galungan
Selanjutnya, Jro Widhi juga menyoroti pentingnya pemasangan penjor sebagai identitas lanskap budaya Bali. Maka dari itu, masyarakat harus memanfaatkan momentum ini untuk menegakkan Peraturan Daerah tentang pelestarian kebudayaan. Bahkan, kewajiban menjaga tradisi ini menyasar seluruh warga, sektor perhotelan, hingga perkantoran swasta.
“Melalui regulasi Perda Bali yang ada, penjor telah ditetapkan sebagai salah satu ikon kebudayaan yang harus kita jaga bersama. Oleh karena itu, kita mengetuk kesadaran semua pihak yang menetap dan berusaha di Bali—tanpa memandang latar belakang agama—untuk ikut serta memasang penjor pada momentum ini. Ini adalah wujud penghormatan murni terhadap budaya tempat kita berpijak, agar kelestarian taksu Bali betul-betul terjaga secara nyata,” lanjut Jro Widhi.
Usulan Tertib Administrasi Pendatang dan Integrasi Banjar Adat
Tidak hanya itu, Jro Widhi juga melontarkan usulan strategis kepada Pemprov Bali demi memperkuat keamanan wilayah. Secara khusus, beliau mendesak penertiban administrasi kependudukan yang tegas bagi para pemilik aset properti. Alhasil, warga pendatang wajib melaporkan diri dan bersinergi dengan Banjar Adat setempat.
“Untuk mewujudkan tata kelola wilayah yang ajeg dan tertib, kami mengusulkan kepada Pemda Bali agar menertibkan para pemilik aset atau rumah di Bali. Semua orang yang tinggal, bekerja, dan menetap di wilayah Bali wajib terdata secara administrasi, masuk dalam pembinaan lingkungan Banjar, serta menghormati aturan hukum maupun norma awig-awig yang berlaku di Banjar tersebut,” ucap Jro Widhi.
Menurutnya, kebijakan tegas ini mempunyai nilai sangat krusial bagi masa depan daerah. Sebab, langkah tersebut akan mengawal keberlanjutan program fundamental Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Tanggung Jawab Bersama Menjaga Devisa dan Kelestarian Bali
Sebagai penutup, Jro Widhi mengingatkan kembali tanggung jawab kolektif dalam menjaga Pulau Dewata. Artinya, beban kelestarian adat tidak boleh bertumpu pada umat Hindu semata. Mengingat Bali merupakan penyumbang devisa terbesar, keajegan pulau ini berada di tangan semua elemen masyarakat.
“Adat dan budaya Bali harus dilestarikan dan dikembangkan menjadi lebih baik, bukan hanya dijaga oleh masyarakat yang beragama Hindu saja. Bali ini adalah milik kita bersama, khususnya bagi setiap orang yang telah memilih untuk menetap, hidup, dan mencari rezeki di sini,” kata Jro Widhi dengan nada penuh komitmen.
Oleh karena itu, beliau meminta agar tidak ada pihak yang hanya mencari keuntungan ekonomi di Bali. Sebab, semua komponen masyarakat dilarang keras abai terhadap tatanan sosial dan kelestarian lingkungan.
“Bali adalah wajah kebanggaan Indonesia di mata dunia dan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara. Oleh karena itu, semua pihak memiliki kewajiban moral yang sama untuk ikut menjaga Bali. Jangan sampai ada tindakan yang justru merusak lingkungan, menodai kesucian budaya, atau mengabaikan aturan adat kita. Mari kita jaga wadah ini bersama-sama demi keberlanjutan masa depan Bali,” tutup Jro Widhi secara lugas.
Tentang Yayasan Ki Patih Wulung (YKPW):
Yayasan Ki Patih Wulung bergerak aktif di bidang sosial, keagamaan, dan pelestarian budaya Bali. Hingga kini, lembaga ini berkomitmen konsisten memberikan edukasi, bimbingan spiritual, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Samsul A.








