Sindoraya.com, Sampang – Masyarakat kembali meneguhkan budaya religius di tanah Madura yang penuh kasih sayang. Oleh karena itu, Majlis As-Syabab menggelar acara Ampenang Bersholawat pada Jumat, 29 Mei 2025. Agenda suci di Rapadaya, Omben, Sampang ini bertujuan memperingati Haul Buyut Ampenang dan para sesepuh.
Suasana berubah menjadi sangat khidmat saat Habib Muchsin Al Hamid tiba di lokasi. Beliau memandu lantunan sholawat bersama ribuan jamaah yang memadati area. Maka dari itu, kehadiran ulama yang mereka hormati ini menjadi penyejuk hati sekaligus magnet doa bagi masyarakat.
Pentingnya Menjaga Tradisi Haul di Madura
Bagi masyarakat Madura, haul bukan sekadar agenda tahunan yang formal. Sebaliknya, acara ini menjadi jembatan kasih sayang antar generasi yang sangat berharga. Peringatan ini mengajak warga mengenang kembali jasa besar para pendahulu yang menyebarkan Islam.
Selain itu, haul selalu menjadi momen pesta kebersamaan yang tulus. Warga dari berbagai daerah datang berkumpul dan saling menyapa dengan hangat. Dengan demikian, perbedaan melebur dalam ikatan ukhuwah Islamiyah serta menjadi sekolah budaya bagi generasi muda.
Sholawat sebagai Identitas dan Benteng Budaya
Gema sholawat sepanjang acara membuktikan kecintaan mendalam warga kepada Rasulullah SAW. Sebab, bersholawat telah menjadi napas kehidupan dan identitas utama masyarakat Madura. Oleh karena itu, salah satu pengurus Majlis As-Syabab mengungkapkan alasan pelaksanaan acara tersebut dengan penuh haru.
“Bersholawat adalah bentuk cinta kami kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus cara kami menghormati para sesepuh yang telah berjuang menjaga tradisi ini tetap hidup sampai hari ini,” ucapnya.
Selanjutnya, tokoh masyarakat setempat, Abdul Hasan, juga menegaskan makna mendalam acara ini. Beliau menilai haul sebagai momentum penting untuk memperkuat hubungan sosial warga. Hasilnya, karakter budaya tersebut menjadi benteng spiritual yang kuat bagi desa.
“Haul bukan sekadar mengenang kepergian mereka, tetapi momen untuk mengikat kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang. Tradisi ini adalah benteng kami, benteng budaya dan agama. Harus dijaga, harus diteruskan, agar generasi muda tetap tahu dari mana mereka berasal dan apa akar spiritual mereka,” ujarnya.
Harapan Pemuda dan Dampak Sosial Ampenang Bersholawat
Sementara itu, generasi muda setempat turut merasakan semangat keagamaan yang sama. Abdul Rahman sebagai tokoh pemuda menyampaikan harapan baiknya untuk masa depan. Oleh karena itu, pemuda setempat berkomitmen menjaga warisan agar selalu tumbuh beriringan.
“Ampenang Bersholawat adalah bukti nyata bahwa kami masyarakat Madura masih teguh memegang warisan leluhur. Kami berharap kegiatan ini terus berjalan setiap tahun, menjadi pengingat abadi bahwa agama dan budaya di tanah ini tumbuh beriringan, saling menguatkan, dan tak terpisahkan,” tuturnya.
Di sisi lain, acara Ampenang Bersholawat ini juga memiliki jiwa sosial yang sangat kuat. Kegiatan religius ini menjadi wadah solidaritas dan menghidupkan semangat gotong royong warga. Tentunya, nilai mulia tersebut merupakan ciri khas masyarakat Madura yang terus mereka jaga.
Kesimpulannya, melalui nuansa religius ini, Ampenang Bersholawat memancarkan cahaya kebersamaan yang kuat. Tradisi keagamaan yang lestari ini akan memberi teladan indah bagi generasi penerus. Sebab, bagi warga Madura, merawat tradisi spiritual berarti menjaga nilai kemanusiaan.
Samsul A.






