Sindoraya.com, Surabaya, – Fenomena perang sarung kini kembali mengancam ketertiban masyarakat selama bulan suci Ramadhan di Kota Surabaya. Sayangnya, tradisi yang dahulu menjadi candaan anak-anak ini sekarang berubah menjadi kedok untuk aksi tawuran yang sangat brutal.
Oleh karena itu, aparat Polrestabes Surabaya segera mengambil tindakan tegas melalui operasi patroli intensif selama sepekan terakhir. Hasilnya, petugas berhasil menangkap belasan pemuda dari tiga kawasan berbeda, yaitu Sawahan, Tambaksari, dan Simokerto.
Kasat Samapta Polrestabes Surabaya, AKBP Erika Purwana Putra, menjelaskan bahwa para pemuda tersebut membawa berbagai senjata tajam. Polisi menemukan benda-benda berbahaya tersebut saat menggeledah kerumunan remaja yang mencurigakan.
Polisi Sita Clurit Hingga Klewang Modifikasi
“Total barang bukti yang kita amankan dari ketiga lokasi ada empat senjata tajam, termasuk clurit, sebilah besi, pipa paralon yang dimodifikasi menyerupai klewang, serta empat unit sepeda motor,” ujarnya pada Jumat (27/2/2026).
Selain itu, temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa para remaja sengaja menggunakan istilah perang sarung untuk menutupi niat tawuran. Hal ini karena mereka kedapatan menyimpan senjata yang mampu melukai atau bahkan menghilangkan nyawa orang lain.
Selama operasi berlangsung, tim kepolisian mengamankan sembilan pemuda di kawasan Banyu Urip dan lima orang di Tambaksari. Kemudian, petugas juga membawa dua orang lagi dari wilayah Simokerto untuk menjalani pemeriksaan.
Tim Jogoboyo 97 Perketat Pengawasan Malam
“Melihat fenomena ini, patroli akan kami tingkatkan setiap hari selama Ramadan, terutama malam hari. Tim gabungan Jogoboyo 97 akan kami kerahkan untuk mencegah aksi serupa,” tegas AKBP Erika dengan nada serius.
Namun, sangat menyedihkan karena momen Ramadhan yang penuh berkah justru ternoda oleh aksi kekerasan jalanan. Modus perang sarung yang dahulu hanya permainan tradisional kini justru bergeser menjadi arena adu nyali menggunakan senjata.
Oleh sebab itu, pihak kepolisian meminta para orang tua agar lebih ketat dalam mengawasi aktivitas anak-anak mereka. Peran keluarga merupakan kunci utama agar remaja tidak terlibat dalam aksi yang memicu pelanggaran pidana.
Tindakan Tegas Bagi Pelaku Kriminal
Jika masyarakat membiarkan hal ini, perang sarung bukan lagi sekadar kenakalan remaja, melainkan pintu masuk menuju tindak kriminal serius. Maka dari itu, aparat berjanji akan menindak tegas siapa pun yang menjadikan Ramadhan sebagai panggung kekerasan.
Kesimpulannya, Ramadhan adalah bulan suci untuk memperbanyak ibadah dan bukan waktu untuk menunjukkan keberanian di jalanan. Polrestabes Surabaya akan terus menjaga keamanan kota agar warga dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan nyaman.
Samsul A.












